TEMPO.COJakarta – Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus tidak hanya merujuk pada sebuah kondisi disabilitas. Anak dengan tingkat inteligensia yang terlalu tinggi dan melampaui anak – anak seusianya juga dapat dikategorikan sebagai ABK. “Dalam dunia psikologi dikenal ABK ekstrim kiri yaitu ABK dengan tingkat intelijensia di bawah rata-rata, sedangkan ABK ekstrim kanan adalah ABK dengan kategori intelijensia superior atau genius,” ujar Psikolog Pendidikan Universitas YARSI, Alabanyo Berbahama, dalam pelatihan mengenai ABK dengan Multi Disability and Visual Impairment (MDVI), di Saung Mitra Netra, Rabu 27 Februari 2019.

Dalam paparan Alabanyo, yang mengutip hasil pengukuran tes psikologi Wechsler, ABK dapat dikategorikan berada dalam kondisi disabilitas mental atau mental defective jika memiliki tingkat intelijensia di bawah 70. Alat tes ini berlaku bagi kalangan umum dan harus diterapkan secara individual.

Skala intelijensia lain yang digunakan untuk menguji tingkat disabilitas mental yang lebih berat adalah Stanford Binet. Skala ini memaparkan rentang IQ pada disabilitas mental yang lebih detil. Skala ini dapat mengukur tingkat intelijensia ABK dalam kategori mampu latih atau rentang IQ 55 – 70, mampu rawat 41 – 55, disabilitas mental parah (severe mental retardation) 26 – 40, dan disabilitas mental berat (profound mental retardation) 0- 25. “Severe mental retardation biasanya terdapat pada kasus ABK yang disertai kelainan medis, misalnya gagal jantung, ada luka yang menyebabkan kelainan fungsi otak,dan akibat fisik lainnya,” ujar Alabanyo.

Sementara itu, Psikolog Pendidikan dengan Subspesialis ABK dengan tingkat intelijensia tinggi (Gifted) dari Universitas Kebangsaan Malaysia yang juga mengajar di Universitas Yarsi, Arif Triman, memaparkan ABK kelompok ini memiliki tingkat intelijensia di atas 120, disebut sebagai intelijensia superior dan di atas 130 disebut dengan intelijensia sangat superior – menurut Skala Wrechsler. “ABK seperti ini juga memiliki permasalahan sosial dalam proses menempuh pendidikannya, misalnya sulit berinteraksi dengan anak – anak lain yang memiliki tingkat IQ di bawahnya atau malas menghadapi materi pelajaran yang sudah dikuasainya,” ujar Arif di kesempatan yang sama.